Isu pelestarian lingkungan kini begitu kuat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, sehingga segala usaha atau tindakan yang berkaitan dengan pembangunan perlu memasukkan unsur pelestarian ke dalamnya. Berkaitan dengan hal itu, teknologi pertanian yang banyak menimbulkan efek negatif terhadap keseimbangan ekosistem perlu ditinjau kembali untuk dicarikan jalan keluar atau penggantinya.
Zaman dahulu, di sawah bisa dengan mudah kita temukan belut, ikan sepat, betok/betik, wader, mujair dan beberapa jenis binatang lainnya. Tetapi di mana mereka sekarang ?
Banyak jenis serangga yang melakukan proses siklus hidup dengan memakai dasar/lantai sawah sebagai bagian dari proses metamorfosisnya. Mereka menjalani sebagian dari masa hidupnya di permukaan tanah atau sedikit di bawah permukaan tanah. Ketika saat tersebut, sebetulnya mereka dapat dikendalikan dengan kehadiran belut, lele, gabus dll. Hewan-hewan ini (belut, lele, gabus) hidup di lumpur (sedikit di bawah tanah/lantai sawah) dan mereka mencari makan di sana. Makanan mereka yang utama adalah jasad renik yang terdapat di lantai sawah. Diantaranya adalah beberapa jenis binatang/serangga penggangu tanaman yang sedang mengalami proses metamorfosis di lantai sawah, atau juga hewan-hewan pengganggu yang memakan/mengganggu perakaran padi.
Kita semua tahu kalau ikan sepat, mujair, wader bisa menembakkan gelembung-gelembung air dari mulutnya atau melompat ke udara. Setidaknya, saya tahu karena waktu kelas 3 SD, ada pelajaran ilmu hayat (sekarang biologi) yang mengajarkan itu. Entah sekarang. Mungkin pelajaran biologi sekarang sudah mengajarkan ilmu-ilmu canggih seperti mikro biologi, rekayasa genetik dll, sehingga sudah tidak sempat lagi mengulas ikan mujair dan sepat yang sederhana itu. Gelembung air itu adalah senjata mereka untuk menjangkau sasaran/mangsa yang berada di luar/ di atas jangkuan mereka. Dengan senjata gelembung air itu mereka menembak serangga terbang, kutu-kutu daun dll. yang ada di tanamna padi.
Bayangkan kalau setiap hari, seekor ikan sepat, menembak 5 ekor walang sangit. Bayangkan juga kalau setiap ekor walang sangit bisa menghasilkan 100 ekor anak. Berapa walang sangit yang dapat kita kendalikan keberadaannya di sawah. Dan kita tidak perlu membayar untuk itu.
Kalau kita bilang theot thek blung, pasti kita akan teasosiasi pada binatang yang satu ini. Kodok. Kodok atau katak. Dahulu ada lagunya yang berjudul Kodok Ngorek. Sekarang kodok sudah tidak ngorek lagi karena kaki belakangnya digoreng jadi swieke. Semua orang tahu atau paling tidak, kebanyakan orang tahu, kalau kodok ini makannya serangga. Serangga apa saja. Dalm film yang diangkat dari novel HC Andersen yang bertopik Pangeran Kodok, di sana digambarkan Pangeran Kodok yang berada di pelaminan masih menyempatkan diri menangkap lalat yang terbang di dekat wajahnya untuk dimakan. Pernahkah anda membayangkan, kira-kira berapa ekor serangga yang harus dimakan seekor kodok setiap harinya supaya bisa jadi besar dan gemuk ? Sekarang ini kodok/katak diburu orang untuk dijual ke restoran-restoran atau pasar-pasar. Sebagian dari kodok-kodok itu memang sudah hasil ternakan dan segian lagi merupakan kodok-kodok liar hasil tangkapan dari alam.
Andai seorang penangkap kodok, semalam bisa menangkap 500 ekor atau lebih. Jika seekor kodok bisa memakan 50 ekor serangga setiap hari, berapa ekor serangga yang bisa selamat dari hasil kerja para penangkap kodok. Berapa jumlah penangkap kodok yang ada sekarang ? Kalau sudah begini, bagaimana kita bisa tidak tergantung pada insektisida sintetis ? Mungkin ada baiknya juga kalau kita beternak kodok di sawah.
Pertanian berwawasan lingkungan adalah suatu budidaya pertanian yang direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat, kondisi dan kelestarian lingkungan hidup, dengan demikian sumber daya alam dalam lingkungan hidup dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga kerusakan dan kemunduran lingkungan dapat dihindarkan dan melestarikan daya guna sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Adapted from: HIPERLINK WAWASAN LINGKUNGAN.PPT
Presentasi ini disampaikan pada Saresehan bersama Eksekutif WALHI DIY-PSLH UGM-BMG yang bertajuk “Climate Change”, Rabu, 31 Oktober 2007 di Bapedalda DIY.